Pelajaran Penuh Hikmah dari Hidup dan Akhir Hayat Abu Dzar RA

Ilustrasi Perjalanan Sendirian, sumber Gontornews

Salah satu pelajaran berharga bagi insan yang masih mengarungi kehidupan adalah mengambil hikmah dari berbagai hal. Aktivitas mengurusi jenazah bisa menjadi cara untuk menghayati bagaimana nilai kehidupan dan persiapan untuk hidup setelah mati. Akhir hayat orang-orang yang baik di sisi Allah SWT seperti Sahabat Rasulullah SAW-pun juga bisa menjadi pelajaran.

Ada banyak Sahabat Rasulullah SAW yang dikenal baik bahkan dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Salah satunya adalah Abu Dzar Al Ghifari. Kehidupan Sahabat Nabi yang satu ini memiliki hikmah yang patut dicontoh bahkan hingga akhir hayatnya. Nah, kali ini tim redaksi distributor keranda mayat stainless mencoba mengulas pelajaran berharga dari akhir hayat Sahabat Abu Dzar Al Ghifari.

Masa Hidup Abu Dzar

Ilustrasi Perjalanan Sendirian, sumber Gontornews
Ilustrasi Perjalanan Sendirian, sumber Gontornews

Terdapat sebuah hadits yang merupakan perkataan Rasulullah SAW untuk Abu Dzar Al Ghifari. Hadits ini disampaikan saat perang Tabuk melawan Romawi. Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, meninggal sendirian dan dibangkitkan nanti sendirian.” Rasulullah SAW mengatakannya saat diantara iringan pasukan Umat Muslim, Abu Dzar berjalan sendirian.

Hadits di atas benar-benar menjadi representasi hidupnya Sahabat Rasulullah SAW Abu Dzar Al Ghifari. Selama hidupnya Beliau mendedikasikan diri untuk menegakkan agama Islam. Bahkan di tengah Umat Muslim sendiri. Beliau dikenal tegas sampai-sampai pernah menerima berbagai akibat seperti dipukuli, pingsan dan diusir.

Masuk Islamnya Sahabat Abu Dzar juga terbilang berbeda. Beliau sebenarnya bukan penduduk Makkah dan hanya mendengar bahwa ada seorang Rasul Allah yang diutus bernama Muhammad SAW dari jauh. Sampai suatu hari Beliau merasa memiliki kesempatan untuk melihat Nabi Muhammad secara langsung.

Beliau berangkat ke Makkah dan tujuannya hanya satu, memastikan kabar yang selama ini telah berhembus tentang keberadaan utusan Allah SWT yang terakhir. Namun ternyata tujuan ini tidak mudah diwujudkan. Saat itu merupakan momen dimana orang-orang kafir Makkah yang menentang Rasulullah SAW dan ajaran yang dibawanya bersikap kasar sehingga Rasulullah SAW berada di tempat yang tidak diketahui kecuali oleh Sahabat dekat Beliau.

Abu Dzar sempat menunggu di sekitar ka’bah berhari-hari bahkan diriwayatkan Beliau tidak makan dan hanya minum air zam-zam. Hingga akhirnya Beliau bertemu dengan Ali bin Abu Thalib. Melalui perantaraan Ali bin Abu Thalib-lah akhirnya Abu Dzar dapat bertemu Rasulullah SAW.

Karena pengetahuannya dari berbagai kabar yang beredar, ternyata Abu Dzar memang ingin bertemu Rasulullah Muhammad SAW dan langsung menyatakan masuk Islam. Sikapnya yang tegas untuk menegakkan kebenaran membuat Beliau mengumumkan ke-Islamannya di tengah keramaian di sekitar Ka’bah. Namun situasi permusuhan terhadap Rasulullah SAW membuat Abu Dzar dipukuli hingga pingsan.

Perjalanan Hidup, sumber Medium
Perjalanan Hidup, sumber Medium

Tidak cukup sekali, menurut cerita riwayat Sahabat Rasulullah SAW, Abu Dzar melakukannya lagi. Beliau datang ke tengah keramaian dan mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang Muslim. Hal yang sama terjadi, Beliau dipukuli hingga pingsan. Setelah kejadian ini, ternyata Rasulullah SAW berwasiat agar Abu Dzar kembali ke kampungnya hingga suatu saat diseru untuk bergabung bersama Umat Muslim.

Akhir Hayat Abu Dzar

Sepeninggal Rasulullah SAW dan beberapa Khalifah setelahnya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Abu Dzar R.A. menemukan kondisi yang sudah jauh berbeda. Yakni di masa Utsman bin Affan saat Utsman bin Affan menjadi Khalifah pengganti Umar bin Khattab. Para pejabat dan kebanyakan penduduk negeri hidup di tengah kesejahteraan bahkan bergaya hidup mewah. Senang menumpuk harta dan menggunakan pakaian yang bagus.

Meskipun Utsman bin Affan tetap mengambil zakat dan mendistribusikannya, namun gaya hidup bermewah-mewahan ini menurut Abu Dzar adalah kenikmatan dunia yang menipu. Beliau berusaha menyelamatkan Umat Muslim dari kehancuran yang bisa diakibatkan gaya hidup ini dengan terus mengingatkan mereka.

Usaha Abu Dzar ini ternyata tidak disukai oleh para penduduk terutama orang-orang kaya. Beliau berdakwah secara khusus mengingatkan orang-orang kaya dan berada bersama orang-orang miskin untuk mengajari mereka agar menuntut hak-haknya dari harta orang kaya. Hal ini membuat Abu Dzar diasingkan pada akhirnya. Inilah yang membuktikan sabda Rasulullah SAW di awal tadi.

Penduduk yang selama ini merasa dibela hak-haknya oleh Abu Dzar tidak kuasa menahan tangis untuk melepas Abu Dzar ke tempat pengasingan. Beliau juga diantarkan oleh Ali bin Abu Thalib serta anak-anaknya Hasan dan Husein sebelum kepergiannya ke tempat pengasingan. Akhir hayat Abu Dzar-pun datang.

Detik-detik menjelang akhir hayatnya, seorang perempuan kurus berkulit kemerah-merahan duduk di dekatnya menangis. Perempuan itu adalah istri tercintanya. Abu Dzar bertanya padanya: “Apa yang kamu tangisi wahai istriku padahal maut itu pasti datang?” Sang istri pun menjawab: “Engkau akan meninggal, padahal kami tak punya kain untuk kafanmu!”

Abu Dzar tersenyum dengan ramah seperti halnya orang yang hendak merantau jauh lalu berkata kepada istrinya: “Janganlah menangis! Pada suatu hari, ketika aku berada di sisi Rasulullah SAW bersama beberapa orang sahabatnya, aku dengar beliau bersabda: ‘Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman”.

Ilustrasi Perjalanan Sendirian, sumber Gontornews
Ilustrasi Perjalanan Sendirian, sumber Gontornews

Dan benar saja, tiba-tiba rombongan kafilah sedang berjalan cepat di padang pasir terdiri atas kaum Mukminin yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud, sahabat Rasulullah SAW. Dan sebelum sampai ke tempat tujuan, Ibnu Mas’ud telah melihat sesosok tubuh terbujur seperti mayat, sedang di sisinya ada seorang wanita tua dengan seorang anak, keduanya menangis.

Air mata Ibnu Mas’ud pun mengucur deras melihat jasad Abu Dzar. Di hadapan jasad yang suci itu ia berkata: “Benarlah ucapan Rasulullah SAW. Anda berjalan sebatang kara. Mati sebatang kara dan dibangkitkan nanti sebatang kara.”

Begitulah akhir hayat dari kehidupan yang bisa menjadi suri tauladan bagi kita dari Abu Dzar Radhiyallahuanhu. Sahabat Rasulullah SAW yang mendedikasikan dirinya untuk Islam hingga akhir hayatnya. Semoga kita bisa mendapat pelajaran dan mengambil hikmahnya untuk kita contoh.